Aku, melati diana. Mencintainya. Dan aku tidak pernah berfikir untuk dicintai olehnya. Bukankah mencintai memang tidak selalu harus memiliki? Ya, aku berbohong jika aku tidak ingin. Aku sangat berbohong jika aku tidak ingin memilikinya. Sungguh, dia itu udara bagiku. Tanpanya aku rasa aku tidak akan bisa hidup lagi didunia ini. Karena itu aku tidak pernah memberitahukan perasaan ini kepadanya.
Pagi itu, rintik hujan membasahi mobilku yang hendak melaju. Aku mahasiswa jurusan sistem informasi di univ swasta di kota depok. Sedang asyik ku menikmati sebuah lagu yang kusukai tiba-tiba ku melihat seseorang dibahu jalan, tidak asing. Dia robby sahabatku. Ternyata mobilnya mogok. Dan sekarang dia sudah berada tepat disampingku, dikursi depan mobilku tentunya. Kami sekelas dari semester 1. Dan sekarang kami memasukin tahun kedua dikampus, yakni semester 4. Rintik hujan menemani kami dalam perjalanan menuju kampus. Beberapa menit kemudian tibalah kami di kampus.
"Mel mau sarapan apa? Aku laper nih temenin aku makan ya" selalu dan selalu aku menjadi view sarapan nya robby. "Sarapan bubur aja ya by" tanpa ada penolakan darinya, aku dan dia langsung pergi menuju tukang bubur langganan kami. Selang beberapa menit kami selesai makan dan langsung bergegas menuju kelas, karena ternyata dosen statistika masuk lebih awal dari biasanya. Robby sangat menyukai statistika sedangkan aku sangat amat tidak menyukai mata kuliah yang banyak menghitung nya.
Hari ini memang hanya satu matakuliah saja, karena kami memang masih awal masuk semester4 jadi belum masuk jadwal lab lab yang akan membuat kami sibuk nantinya. "Mel, aku nebeng lagi ya? Mobilku masih dibengkel" "okedeh, aku mau mampir ke coffe shop dulu sekalian buat tugas. Kamu mau ikut atau aku langsung antar kamu kebengkel by?" Tanyaku kepadanya. "Aku ikut deh, bingung juga dirumah ga ngapa-ngapain mel" "okedeh kita cabut sekarang ya" ucapku sambil melangkah kearah parkiran. "Mel tunggu deh" ucap robby sambil menarik lenganku. Sungguh, jantungku rasanya hendak mau copot dari tempatnya. Berlebihan memang, bukan baru sekali ini aku merasakan perasaan seperti ini jika disentuh olehnya. Sudah beribuan kali. Ah sudahlah.. "iya kenapa by?" Jawabku. "Katanya rina mau ketemu aku sebentar, ada yang mau dia omongin" ucapnya. DAGDIGDUGDER! "Oke aku tunggu mobil deh ya, jangan lama-lama ah by" jawabku dengan nada ketus. "Siap bu bos" ucap robby sambil berlari menuju lantai atas gedung 3. Pagi ini kami memakai lantai 1 gedung 3. Dan aku sangat bersyukur hehehehe
Rina, gebetan robby. Mereka baru dekat beberapa minggu ini. Robby memang belum banyak cerita tentang nya. Tapi rasanya hatiku sudah hancur menjadi ribuan keping. Apa jadinya nanti jika robby sudah banyak menceritakan tentang rina kepadaku? Entahlah aku tidak bisa membayangkan nya. Aku berjalan menuju parkiran mobil, kududuk dan menatap kosong ke arah bangku dimana robby duduk pagi ini. Wangi khas nya masih tercium. Mataku tidak bisa menahan diri lagi, dia mengeluarkan butiran-butiran halus dan jatuh melewati pipiku ini. "Ya, aku mencintai robby. Aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa menahan diri lagi. 2tahun aku menyimpan ini sangat rapat, berapa lama lagi aku harus menyimpan nya" ucapku lirih dalam hati. Butiran-butiran halus ini makin membandel dan semakin membasahi pipiku. Dering handphone ku menyadarkan ku dari ketidakbenaran ini. Terdapat nama robby dilayar handphone ku. Kusegera mengangkatnya "mel kamu masih di parkiran?" Tanyanya. "Masih by kenapa? Kamu masih lama?" "Iya mel ternyata rina belum keluar kelas, masih 20 menitan lagi keluarnya" jawab robby dengan nada lirih diseberang sana. "Oh yaudah gimana jadinya? Mau aku tungguin aja?" "Eh engga engga mel, kamu duluan aja ke coffe shop nya ya entar aku susul kamu. Biar aku nebeng rina. Kamu send location aja biar entar aku samperin kamu" jawabnya. "Oh yaudah kalo gitu, see ya" ucapku lalu mematikan telfon nya. Aku kesal. Sangat amat kesal. Ku nyalakan radio mobilku dengan volume sekencang-kencang nya. Aku tidak perduli jika kuping ku tiba-tiba kabur karena volume yang sangat kencang Ini. Aku langsung bergegas menuju coffe shop langganan ku.
Baru saja aku duduk, tiba-tiba handphone ku berdering yang menunjukkan ada chat masuk. Kulihat dan ternyata dari robby. "Mel maaf, tadi udah buat kamu nunggu diparkiran beberapa menit dan akhirnya kamu jalan ke coffe shop sendiri. Sebentar lagi rina keluar kelas. Habis dia bicara aku langsung minta anter ke kamu ya" tulis robby dari seberang sana. DUAR! Ini yang membuat aku semakin tidak bisa menghilangkan perasaanku kepadanya. Kujawab chat nya "iya by gpp, aku tunggu ya" dan diakhiri dengan mengirim location kepadanya. Tidak lama kemudian coffe favorite ku datang, langsung saja ku seruput. Karena biasanya kalau mood ku lagi tidak bagus, setelah meminum coffe ini mood ku langsung kembali bagus hehehe
Setengah jam kemudian, aku melihat kearah pintu dan kudapati seorang pria tinggi berkulit agak putih memakai kaos polo biru tua sedang mencari seseorang, ya itu robby. Ku lambaikan tangan kepadanya dan dia langsung bergegas menuju kearahku. Lokasi duduk ku memang sangat pojok sehingga agak sulit dilihat dari pintu masuk. Dia langsung duduk dan menatapku "mel, marah ya?" Tanyanya dengan nada lirih. "engga lah by, kenapa aku harus marah. Lagipula tadi aku baru menunggu beberapa menit dimobil sampai kamu telfon dan menyuruhku untuk kesini duluan" jawabku dengan mata tetap kelayar laptop. Ya, aku sedang mengerjakan tugas bahasa indonesia. "Ah kamu mah marah, tadi tuh rina engga ngasih tau kalo dia masih ada kelas 20 menitan lagi. Aku baru tahu pas aku sampai kelasnya. Pas aku tanya baru deh dia kasih tau aku" ucap nya. "Iya gpp by, gimana kamu sama rina?" Tanyaku. Rasanya ingin sekali menatap matanya dan mengutarakan semua yang aku rasakan selama ini. Tapi itu sangat amat mustahil. Aku tidak ingin kehilangan udaraku! "Iya tadi rina minta kepastian hubungan aku sama dia mel, sebenarnya aku memang dari 2 hari yang lalu ingin mengutarakan perasaan ku kepadanya tapi belum nemu waktu yang pas. Sampai akhirnya dia yang nodong aku kayak tadi hahahahaha" "terus kalian jadian?" Tanyaku dengan cepat. "Iya mel kita jadian hahahahaha aku bingung banget kan disatu sisi rina minta kepastian saat itu juga. Disisi lain, aku belum siapin apa-apa buat nembak dia. Tapi ternyata rina lebih dari apa yang aku bayangin mel, dia enggak nuntut aku harus romantis saat nembak dia" jawab robby dengan muka berseri-seri. Entah apa yang saat ini aku rasakan. Aku merasa dadaku dikeroyok orang sekampung. Rasanya aku ingin berjalan ditengah-tengah hujan. Agar tidak ada yang tahu kalau aku sedang menangis. "Yang sabar ya hati, aku yakin kamu kuat dan ini tidak akan berlangsung lama" aku berbicara dengan hatiku sambil terus memandangi layar laptop tanpa mengetik apapun.
"Mel" suara robby membangunkan ku dari lamunan ku. "Ah iya? Syukur deh by kalo kamu sekarang udah jadian sama rina hehe selamat ya kalian semoga langgeng loh. Aku ditraktir coffe dong ya hari ini?" Ucap ku sambil berusaha tetap tenang meskipun hatiku saat ini sedang mengalami gempa 8 skala richter. "Pasti dong, kamu pesen berapa coffe pun aku yang bayar. Itung-itung membagi kebahagiaan. Btw kamu kapan nih punya pacarnya mel? Aku kok gapernah sekalipun denger kamu suka sama cowok sih?" Tanya robby dengan nada dan muka meledek. "AKU MENCINTAI KAMU BY, GIMANA AKU BISA CERITA KE KAMU KALO AKU MENCINTAI KAMU?" Teriak ku dalam hati. "Sebentar" ucapku sambil meraih handphone, yang sebenarnya tidak ada chat ataupun telfon dari siapa pun. Tetapi aku sudah tidak tahan lagi berada disini lama-lama. "Mamah ku chat katanya suruh antar dia ke supermarket by. Kita pulang sekarang ya?" "Yahh aku kan masih mau cerita banyak mel" jawab robby lirih. "Lain kali aja ya? Kamu langsung aku antar ke bengkel nih? Atau mau jalan dulu sama rina?" Tanyaku dengan nada meledek. "Please by jawab langsung antar ke bengkel please jangan buat hati aku makin gempa" ucap ku dalam hati. "Langsung ke bengkel aja mel, rina juga lagi pergi sama temen-temen nya" jawab robby. "Okedeh kalau begitu" senang. Mereka tidak berdua dihari jadinya hahaha meskipun aku masih mempunyai Hutang nangis. Entah akan berapa banyak tissue yang akan aku habiskan hari ini. Semoga luka ini cepat sembuh.
Benar saja, sesampainya dirumah aku langsung saja menangis. Menangisi diriku sendiri, menangisi kebodohanku. Aku si bodoh yang tidak pernah berani untuk mengutarakan isi hatiku kepada robby. Sampai akhirnya robby kini dimiliki oleh orang lain. Dan aku hanya bisa menangis. Hanya menangis. Tentu, selain menangis apa lagi yang bisa aku lakukan? Apa aku harus marah kepada robby karena telah berpacaran dengan rina? Mustahil! Sekarang yang harus aku harus lakukan adalah membuang semua perasaan ku terhadap robby. Aku harus berusaha untuk tidak mengharapkan nya lagi. Karena makin mustahil untuk bisa memilikinya.
Aku cemburu, kenapa bukan aku? Kenapa bukan aku yang kau pilih? Aku
ingin hubungan lebih, yang kau rasakan padanya ku inginkan juga. Aku
cemburu. Karena kau adalah sebagian dari hatiku! Lamanya kesetiaanku
menjadi pendengarmu dan menjaga hatiku. Ku inginkan hubungan yang lebih
dari dia, tahukan kau aku menderita demi cintaaaaaaa? Aku cemburu, bila
kau dengan nya dan aku harus melihatnya. Aku berhenti. Aku berkomitmen
dengan diriku untuk berhenti mencintaimu. Aku berhenti.